Bahasa Baku dan Tidak Baku: Perbedaan dan Contohnya

bahasa baku dan tidak baku

Bahasa baku dan tidak baku sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik saat berbicara dengan teman maupun ketika menulis dokumen resmi. Misalnya, kamu mungkin mengatakan “Aku nggak tahu” saat mengobrol santai, tetapi memilih “Saya tidak mengetahui hal tersebut” ketika menulis laporan. Keduanya menyampaikan maksud yang serupa, meskipun memiliki tingkat formalitas berbeda.

Lalu, bagaimana cara menentukan pilihan kata yang tepat? Memahami perbedaan kedua ragam bahasa ini membantu kamu menyesuaikan komunikasi dengan lawan bicara, tujuan, dan situasi. Dengan begitu, kamu bisa menulis pesan yang lebih jelas tanpa kehilangan kesan alami saat berbincang dalam suasana santai.

Apa Itu Bahasa Baku dan Tidak Baku?

Sebelum membandingkan penggunaannya, kamu perlu memahami pengertian masing-masing ragam bahasa. Pengetahuan ini menjadi dasar untuk menentukan pilihan kata dalam percakapan, tulisan akademik, maupun komunikasi profesional.

Pengertian Bahasa Baku

Bahasa baku merupakan ragam bahasa yang mengikuti kaidah kebahasaan yang telah dibakukan, termasuk ejaan, tata bahasa, dan pemilihan kata. Untuk bahasa Indonesia, kamu dapat memeriksa bentuk kata melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan mempelajari aturan penulisannya melalui Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

Ragam ini umum digunakan dalam surat resmi, laporan akademik, dokumen perusahaan, dan komunikasi profesional. Selain itu, penggunaannya membantu penulis menyampaikan informasi secara konsisten kepada pembaca dari berbagai latar belakang. Contohnya, risiko merupakan bentuk baku, sedangkan resiko termasuk bentuk tidak baku. Begitu pula dengan aktivitas, bukan aktifitas. Bentuk yang tepat penting agar tulisan mengikuti kaidah bahasa Indonesia.

Pengertian Bahasa Tidak Baku

Sebaliknya, bahasa tidak baku merupakan ragam bahasa yang tidak mengikuti kaidah baku secara konsisten. Penutur biasanya menggunakannya dalam percakapan sehari-hari, pesan singkat, dan interaksi di media sosial. Contohnya, ungkapan nggak, gimana, dan udah sering muncul ketika seseorang berbicara dengan teman atau keluarga. Kata-kata tersebut terasa akrab dalam situasi informal, tetapi kurang sesuai untuk surat dinas atau laporan resmi.

Baca Juga:  Jasa Penterjemah Bahasa

Meski begitu, ragam informal tidak selalu menunjukkan kesalahan komunikasi. Penggunaannya justru dapat membangun kedekatan dan membuat percakapan terasa lebih alami. Hal terpenting ialah menyesuaikan pilihan kata dengan kebutuhan.

Perbedaan Bahasa Baku dan Tidak Baku

Setelah memahami pengertiannya, kamu bisa melihat perbedaan kedua ragam bahasa melalui kaidah, pilihan kata, dan situasi penggunaannya. Berikut perbandingan yang dapat membantu kamu mengenali karakteristik masing-masing.

Aspek Bahasa Baku Bahasa Tidak Baku
Kaidah Mengikuti kaidah yang dibakukan Tidak selalu mengikuti kaidah baku
Kosakata Menggunakan bentuk kata baku Dapat menggunakan ungkapan informal
Situasi Formal dan resmi Santai dan informal
Contoh penggunaan Surat dinas, laporan, karya ilmiah Chat pribadi, percakapan dengan teman
Tujuan Menjaga kejelasan dan konsistensi Membangun suasana akrab

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kamu perlu mempertimbangkan konteks sebelum memilih ragam bahasa. Misalnya, gunakan bentuk formal ketika mengirim proposal kepada klien. Sebaliknya, kamu bisa menggunakan ungkapan santai saat berbincang dengan teman dekat.

Contoh Kata Baku dan Tidak Baku

Salah satu cara termudah mengenali bentuk kata yang tepat adalah membandingkan penulisan yang baku dengan bentuk yang sering muncul dalam percakapan. Beberapa kata bahkan terasa benar karena orang sudah terbiasa mengucapkannya.

Berikut daftar contoh yang bisa kamu jadikan referensi ketika menulis.

Kata Baku Kata Tidak Baku
Aktivitas Aktifitas
Risiko Resiko
Apotek Apotik
Izin Ijin
Praktik Praktek
Nasihat Nasehat
Kualitas Kwalitas
Sekadar Sekedar
Karier Karir
Analisis Analisa
Sistem Sistim
Objek Obyek
Subjek Subyek
Atlet Atlit
Februari Pebruari
Teladan Tauladan
Mengubah Merubah
Antre Antri
Silakan Silahkan
Memengaruhi Mempengaruhi

Gunakan daftar tersebut sebagai panduan awal saat menyusun artikel, laporan, atau dokumen pekerjaan. Namun, jika kamu menemukan kata yang meragukan, periksa kembali bentuk dan maknanya melalui KBBI. Selain itu, jangan hanya mengandalkan kebiasaan pengucapan. Kata yang sering terdengar dalam percakapan belum tentu sesuai dengan kaidah penulisan baku.

Contoh Penggunaan dalam Kalimat

Selain mengenali bentuk kata, kamu juga perlu memahami cara menggunakannya dalam kalimat. Perubahan dari ragam informal ke ragam formal terkadang membutuhkan penyesuaian susunan kalimat, bukan sekadar mengganti satu kata.

Bahasa Tidak Baku Bahasa Baku
Aku nggak tahu soal itu. Saya tidak mengetahui hal tersebut.
Kamu udah makan belum? Apakah kamu sudah makan?
Gimana cara bikin laporan ini? Bagaimana cara membuat laporan ini?
Dia lagi bikin tugas kuliah. Dia sedang mengerjakan tugas kuliah.
Tolong kasih tahu hasilnya. Tolong beri tahu hasilnya.
Saya mau ngajuin lamaran kerja. Saya ingin mengajukan lamaran kerja.
Kita harus ngecek datanya dulu. Kita harus memeriksa datanya terlebih dahulu.
Hasilnya kayak yang kita harapkan. Hasilnya seperti yang kita harapkan.

Tabel tersebut memperlihatkan cara menyesuaikan kalimat dengan kebutuhan komunikasi. Ketika menulis laporan atau surat resmi, pilih ungkapan yang jelas dan sesuai dengan kaidah bahasa.

Baca Juga:  5 Perbedaan Aksen dan Dialek dalam Sebuah Bahasa

Sebaliknya, kamu tetap bisa menggunakan kalimat informal saat mengobrol dengan teman. Dengan demikian, kamu tidak perlu menghindari bahasa sehari-hari selama penggunaannya sesuai dengan konteks.

Ciri-Ciri Kedua Ragam Bahasa

Untuk mengenali penggunaannya dengan lebih mudah, perhatikan ciri-ciri umum berikut. Pemahaman ini membantu kamu menentukan apakah suatu pilihan kata sesuai untuk tulisan formal atau percakapan santai.

Ciri-Ciri Bahasa Baku

Ragam formal mendukung komunikasi yang jelas dan konsisten. Beberapa karakteristiknya meliputi:

  • Mengikuti aturan ejaan dan tata bahasa yang berlaku.
  • Menggunakan kosakata sesuai bentuk baku.
  • Menyusun kalimat dengan struktur yang jelas.
  • Menghindari ungkapan informal yang tidak sesuai dengan situasi resmi.
  • Mengutamakan ketepatan makna dalam komunikasi profesional.

Sebagai contoh, perusahaan perlu menggunakan istilah yang konsisten ketika menyusun laporan keuangan. Dengan begitu, pembaca dapat memahami informasi tanpa terganggu oleh variasi penulisan yang tidak perlu.

Ciri-Ciri Bahasa Tidak Baku

Di sisi lain, ragam informal lebih fleksibel dan dekat dengan kebiasaan percakapan. Ciri-cirinya antara lain:

  • Menggunakan kata-kata yang lazim dalam percakapan sehari-hari.
  • Memungkinkan variasi pengucapan dan penulisan informal.
  • Sering menggunakan singkatan atau ungkapan santai.
  • Mengikuti kebiasaan komunikasi kelompok tertentu.
  • Menciptakan suasana akrab antara pembicara dan lawan bicara.

Misalnya, seseorang mungkin menulis, “Aku lagi sibuk, nanti aku kabarin, ya” kepada temannya. Kalimat tersebut terasa alami dalam percakapan santai. Namun, untuk surat kepada klien, penulis sebaiknya memilih ungkapan yang lebih formal.

Fungsi Bahasa dalam Komunikasi

Kedua ragam bahasa memiliki fungsi berbeda sesuai kebutuhan. Oleh karena itu, memahami kegunaannya akan membantu kamu menyampaikan pesan secara efektif tanpa harus selalu menggunakan gaya formal.

Fungsi Bahasa Baku

Ragam formal membantu menyampaikan informasi secara konsisten, terutama ketika penulis berkomunikasi dengan banyak orang. Penggunaannya juga mendukung keseragaman bahasa dalam pendidikan, administrasi, dan dunia profesional.

Berikut beberapa fungsinya:

  • Bahasa resmi: mendukung komunikasi kedinasan dan administrasi pemerintahan.
  • Bahasa pendidikan: digunakan dalam buku pelajaran, makalah, dan karya ilmiah.
  • Bahasa profesional: membantu menyampaikan informasi dalam proposal, laporan, dan dokumen perusahaan.
  • Sarana komunikasi lintas daerah: memudahkan penutur bahasa Indonesia dari berbagai wilayah memahami pesan yang sama.

Fungsi Bahasa Tidak Baku

Sementara itu, ragam informal membantu seseorang membangun kedekatan dengan lawan bicara. Penggunaannya juga membuat percakapan terasa lebih alami dan sesuai dengan suasana.

Beberapa fungsinya meliputi:

  • Membuat percakapan terasa santai.
  • Menunjukkan kedekatan antara pembicara dan lawan bicara.
  • Menyampaikan emosi secara alami.
  • Menyesuaikan gaya komunikasi dengan kebiasaan suatu kelompok.

Sebagai contoh, kamu bisa memakai bahasa santai saat berbincang dengan rekan kerja melalui chat pribadi. Namun, ketika menyusun perjanjian bisnis, gunakan bentuk formal agar informasi dan ketentuan tertulis lebih jelas.

Kapan Harus Menggunakan Bahasa Baku?

Mengetahui bentuk kata saja belum cukup. Kamu juga perlu mempertimbangkan pembaca, tujuan tulisan, dan ketentuan dari pihak yang menerima dokumen.

Baca Juga:  Mengenal Seputar Jasa Penerjemah Bahasa

Berikut beberapa situasi yang umumnya membutuhkan ragam formal.

  1. Dokumen resmi, seperti surat dinas, surat kuasa, dan perjanjian.
  2. Karya ilmiah, seperti makalah, skripsi, tesis, dan jurnal akademik.
  3. Komunikasi bisnis, termasuk proposal, laporan keuangan, serta company profile.
  4. Informasi publik, seperti pengumuman, panduan, dan materi edukasi.
  5. Penerjemahan dokumen, terutama untuk keperluan akademik, hukum, bisnis, dan administrasi.

Dalam penerjemahan, pemilihan kata yang tepat membantu menjaga makna dokumen asli. Penerjemah juga perlu memperhatikan konteks, istilah khusus, serta format dokumen agar hasilnya sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Jika dokumen akan digunakan di luar negeri, periksa bahasa yang diminta oleh lembaga tujuan. Selain itu, beberapa keperluan administrasi mungkin mensyaratkan terjemahan resmi dari penerjemah tersumpah. Karena itu, pastikan persyaratannya sebelum memilih layanan penerjemahan.

Cara Menggunakan Bahasa Baku dengan Tepat

Kamu bisa membiasakan diri menggunakan ragam formal melalui langkah-langkah sederhana. Terapkan kebiasaan ini ketika menulis tugas, artikel, surat resmi, maupun dokumen pekerjaan.

1. Periksa Kata melalui KBBI

Saat ragu terhadap bentuk suatu kata, cari entri dan maknanya di KBBI. Cara ini membantu kamu memastikan pilihan kata sebelum memasukkannya ke dalam tulisan.

2. Gunakan EYD sebagai Pedoman

EYD membantu kamu memeriksa ejaan, penggunaan huruf kapital, tanda baca, dan penulisan unsur bahasa lainnya. Jadi, jangan hanya memeriksa kosakata, tetapi perhatikan juga cara penulisannya.

3. Sesuaikan Bahasa dengan Pembaca

Sebelum menulis, tentukan siapa yang akan membaca pesanmu. Bahasa untuk teman dekat tentu berbeda dari bahasa untuk dosen, atasan, klien, atau instansi pemerintah.

4. Hindari Mengubah Kata Berdasarkan Perkiraan

Kata yang terdengar formal belum tentu merupakan bentuk baku. Oleh sebab itu, periksa sumber tepercaya sebelum mengganti suatu kata, terutama ketika kamu menulis dokumen penting.

5. Sunting Tulisan Sebelum Mengirim

Baca kembali tulisanmu untuk memeriksa ejaan, susunan kalimat, dan konsistensi istilah. Jika dokumen akan digunakan untuk keperluan profesional atau lintas bahasa, lakukan pemeriksaan dengan lebih teliti agar maknanya tetap terjaga.

Butuh Jasa Penerjemah untuk Dokumen Resmi?

Pemilihan bahasa yang tepat membantu kamu menyusun tulisan sesuai konteks. Namun, ketika dokumen perlu diterjemahkan ke bahasa asing, kamu juga harus memperhatikan ketepatan istilah, konteks kalimat, dan persyaratan lembaga penerima.

Solusi Penerjemah menyediakan jasa penerjemah bahasa asing, dokumen perusahaan, dan dokumen pribadi. Layanannya mencakup penerjemahan ijazah, akta kelahiran, paspor, dokumen bisnis, perjanjian, hingga laporan keuangan. Selain itu, tersedia jasa legalisasi dokumen dan Apostille sesuai kebutuhan serta persyaratan yang berlaku.

Jika kamu membutuhkan bantuan untuk menerjemahkan dokumen akademik, bisnis, atau administrasi pribadi, kunjungi Solusi Penerjemah untuk melihat layanan yang tersedia. Kamu juga bisa menghubungi tim melalui WhatsApp +628999045858 untuk berkonsultasi mengenai kebutuhan penerjemahan dokumen.

FAQ

Apa perbedaan bahasa baku dan tidak baku?

Bahasa baku mengikuti kaidah yang dibakukan, sedangkan bahasa tidak baku lebih umum digunakan dalam komunikasi informal.

Apa contoh kata baku dan tidak baku?

Contohnya, risiko merupakan bentuk baku, sedangkan resiko merupakan bentuk tidak baku.

Apakah bahasa tidak baku selalu salah?

Tidak. Ragam informal sesuai untuk percakapan santai selama penggunaannya cocok dengan konteks.

Kapan harus menggunakan bahasa baku?

Gunakan ragam formal dalam dokumen resmi, karya ilmiah, komunikasi bisnis, dan administrasi profesional.

Bagaimana cara mengetahui kata baku?

Periksa bentuk dan makna kata melalui KBBI serta ikuti aturan penulisan dalam EYD.

Rate this post