Bahasa Inklusif dalam Penerjemahan: Mengapa Penting?

bahasa inklusif dalam penerjemahan

Pernahkah kamu membaca hasil terjemahan yang secara tata bahasa sudah benar, tetapi terasa kurang nyaman atau bahkan menyinggung kelompok tertentu? Kondisi ini bisa muncul ketika penerjemah hanya berfokus pada kesepadanan kata tanpa memahami konteks sosial, budaya, dan keberagaman pembacanya. Padahal, sebuah terjemahan tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga perlu menjaga agar setiap orang dapat memahami pesan tanpa merasa tersisih.

Di sinilah bahasa inklusif dalam penerjemahan memegang peranan penting. Pendekatan ini membantu penerjemah memilih kata, istilah, dan struktur kalimat yang menghargai perbedaan gender, usia, latar belakang budaya, kondisi fisik, serta identitas sosial. Dengan begitu, hasil terjemahan tidak hanya akurat secara makna, tetapi juga mampu menjangkau pembaca dari berbagai latar belakang.

Apa Itu Bahasa Inklusif dalam Penerjemahan?

Sebelum membahas penerapannya, kamu perlu memahami bahwa bahasa inklusif bukan sekadar mengganti beberapa kata dengan istilah yang terdengar lebih sopan. Pendekatan ini mengutamakan cara berkomunikasi yang menghormati keberagaman dan menghindari ungkapan yang mengecualikan, merendahkan, atau memberikan stereotip kepada kelompok tertentu.

Bahasa inklusif dalam penerjemahan merupakan pendekatan yang mempertimbangkan keberagaman identitas, pengalaman, dan latar belakang pembaca ketika penerjemah mengalihkan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran.

Artinya, penerjemah tidak cukup hanya mencari padanan kata yang tepat. Mereka juga perlu memahami bagaimana pembaca dalam budaya tujuan menerima istilah tersebut.

Sebagai contoh, istilah chairman dalam bahasa Inggris secara tradisional merujuk pada seseorang yang memimpin rapat atau organisasi. Namun, istilah tersebut mengandung unsur gender karena menggunakan kata man. Dalam konteks tertentu, penerjemah dapat memilih istilah chairperson atau chair yang lebih netral.

Contoh lainnya berkaitan dengan penyebutan penyandang disabilitas. Penerjemah perlu memahami istilah yang menghormati individu maupun komunitas terkait, bukan sekadar mengikuti kebiasaan bahasa sehari-hari.

Dengan demikian, bahasa inklusif dalam penerjemahan membantu penerjemah menjaga pesan tetap setara tanpa mengubah maksud utama penulis.

Mengapa Bahasa Inklusif Penting dalam Penerjemahan?

Pilihan kata dalam sebuah dokumen dapat memengaruhi cara pembaca memahami seseorang, kelompok, maupun suatu peristiwa. Karena itu, penerjemah perlu mempertimbangkan dampak setiap istilah, terutama ketika mereka menyampaikan pesan kepada masyarakat dengan latar belakang beragam.

Ada beberapa alasan yang membuat pendekatan ini penting.

1. Menghindari Diskriminasi dan Stereotip

Pemilihan kata yang kurang tepat dapat memperkuat stereotip terhadap kelompok tertentu. Misalnya, sebuah dokumen pekerjaan yang menyebut posisi kepemimpinan dengan istilah yang hanya merujuk pada laki-laki dapat memberikan kesan bahwa perusahaan mengutamakan gender tertentu.

Melalui bahasa inklusif dalam penerjemahan, penerjemah dapat menghindari istilah yang mengandung bias gender, diskriminasi, atau generalisasi terhadap kelompok tertentu.

Prinsip ini penting ketika penerjemah menangani dokumen perusahaan, materi pendidikan, kebijakan organisasi, hingga publikasi internasional. Setiap pesan perlu mempertahankan profesionalisme tanpa memberikan kesan bahwa kelompok tertentu memiliki kedudukan lebih tinggi.

Baca Juga:  Ambiguitas Bahasa: Pengertian dan Contohnya

2. Menghargai Perbedaan Budaya

Setiap bahasa memiliki kebiasaan, norma, dan cara penyebutan yang berbeda. Istilah yang terdengar biasa dalam satu budaya belum tentu memiliki makna serupa ketika seseorang menerjemahkannya ke bahasa lain.

Misalnya, penggunaan kata sapaan, gelar, atau penyebutan status sosial memiliki perbedaan antara bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, dan Korea. Penerjemah perlu memahami konteks tersebut agar hasil terjemahan tidak terdengar kasar atau kurang sesuai dengan norma setempat.

Dalam hal ini, penerjemahan yang sensitif budaya membantu penerjemah menyampaikan pesan sesuai kebiasaan masyarakat tujuan tanpa menghilangkan konteks aslinya.

3. Meningkatkan Aksesibilitas Informasi

Bahasa inklusif juga membantu masyarakat mengakses informasi dengan lebih mudah. Pilihan istilah yang jelas, tidak ambigu, dan tidak mengandung asumsi berlebihan dapat memudahkan lebih banyak orang memahami isi dokumen.

Contohnya, materi edukasi untuk masyarakat umum sebaiknya menggunakan bahasa yang sederhana. Jika teks memuat istilah teknis, penerjemah dapat menambahkan penjelasan selama langkah tersebut tidak mengubah maksud informasi.

Pendekatan ini bermanfaat ketika penerjemah menangani dokumen pendidikan, panduan layanan publik, informasi kesehatan, hingga materi pelatihan perusahaan.

4. Menjaga Profesionalisme dan Kredibilitas

Dalam komunikasi profesional, pilihan kata turut membentuk citra sebuah organisasi. Dokumen yang memuat ungkapan diskriminatif dapat memicu kesalahpahaman atau memberikan kesan bahwa perusahaan kurang menghargai keberagaman.

Sebaliknya, bahasa inklusif dalam penerjemahan membantu perusahaan menyampaikan informasi secara profesional sekaligus menghormati pembacanya.

Hal ini semakin penting ketika perusahaan menjalin komunikasi lintas negara, melakukan kerja sama bisnis, merekrut tenaga kerja internasional, atau menerbitkan publikasi untuk pasar global.

Bentuk Bahasa Inklusif yang Perlu Diperhatikan Penerjemah

Bahasa inklusif tidak hanya berkaitan dengan gender. Penerjemah juga perlu memperhatikan berbagai aspek keberagaman agar pilihan istilah dalam hasil terjemahan tidak menimbulkan bias atau kesan diskriminatif.

Berikut beberapa bentuk bahasa inklusif yang perlu kamu pahami.

1. Bahasa yang Netral Gender

Bahasa netral gender membantu penerjemah menyampaikan informasi tanpa mengasumsikan jenis kelamin seseorang ketika konteks tidak membutuhkannya. Pendekatan ini juga mencegah kesan bahwa pekerjaan, jabatan, atau tanggung jawab tertentu hanya cocok untuk gender tertentu.

Contohnya:

Istilah Kurang Inklusif Alternatif Lebih Inklusif
Chairman Chairperson atau Chair
Policeman Police officer
Spokesman Spokesperson
Mankind Humanity
Businessman Businessperson

Pedoman Gender-Inclusive Language dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mendorong penggunaan bahasa yang menghindari bias gender ketika informasi tidak membutuhkan penyebutan gender secara khusus.

Namun, penerjemah tetap perlu mempertahankan informasi gender jika konteks memang membutuhkannya. Misalnya, dokumen hukum, data demografi, atau dokumen identitas yang mencantumkan informasi tersebut.

2. Bahasa yang Menghormati Penyandang Disabilitas

Penerjemahan yang sensitif budaya juga mencakup cara penyebutan penyandang disabilitas. Penerjemah sebaiknya menghindari istilah yang menjadikan kondisi fisik atau mental seseorang sebagai bahan ejekan, stereotip, maupun gambaran yang merendahkan.

Perhatikan beberapa contoh berikut:

Istilah yang Perlu Dihindari Alternatif yang Lebih Netral
Handicapped person Person with a disability
Suffers from blindness Person who is blind
Confined to a wheelchair Uses a wheelchair
Mentally challenged Person with an intellectual disability

Namun, setiap individu dan komunitas dapat memiliki preferensi istilah yang berbeda. Sebagian orang lebih menyukai person-first language, sedangkan kelompok lain memilih identity-first language.

PBB melalui pedoman Disability-Inclusive Language menekankan pentingnya menghormati cara seseorang atau komunitas mengidentifikasi dirinya. Karena itu, penerjemah perlu memahami preferensi komunitas terkait sebelum menentukan istilah.

3. Bahasa yang Tidak Mendiskriminasi Usia

Usia juga dapat menjadi sumber bias dalam komunikasi. Istilah tertentu terkadang menggambarkan seseorang berdasarkan usianya dengan cara yang merendahkan atau menganggap kemampuannya terbatas.

Contohnya, penerjemah dapat memilih istilah older people atau older persons sebagai alternatif the elderly dalam konteks tertentu.

Sementara itu, penyebutan anak-anak dan remaja perlu mengikuti konteks usia serta tujuan dokumen. Dalam materi pekerjaan, pendidikan, maupun layanan publik, penerjemah perlu memastikan bahwa istilah yang mereka pilih tidak menimbulkan kesan negatif terhadap kelompok usia tertentu.

Baca Juga:  Translate Bahasa

4. Bahasa yang Menghargai Perbedaan Budaya dan Identitas

Perbedaan budaya memengaruhi penggunaan nama, gelar, sapaan, serta istilah yang berkaitan dengan identitas seseorang. Misalnya, bahasa Jepang dan Korea memiliki sistem tingkat kesopanan yang memengaruhi cara seseorang berbicara kepada orang lain.

Penerjemah bahasa Jepang perlu mempertimbangkan penggunaan bentuk sopan seperti keigo sesuai hubungan pembicara dan penerima pesan. Begitu pula dalam bahasa Korea, pemilihan tingkat tutur dapat membentuk kesan profesional sekaligus menunjukkan penghormatan kepada lawan bicara.

Dalam konteks ini, bahasa inklusif dalam penerjemahan bukan berarti penerjemah harus membuat semua istilah menjadi netral atau seragam. Mereka justru perlu memahami perbedaan budaya agar pesan tetap sesuai dengan konteks masyarakat tujuan.

Contoh Penerapan Bahasa Inklusif dalam Penerjemahan

Setelah memahami bentuk-bentuknya, kamu juga perlu melihat bagaimana penerjemah menerapkan pendekatan ini dalam pekerjaan sehari-hari. Perubahan kecil pada pilihan kata dapat memengaruhi cara pembaca menerima sebuah pesan.

Berikut beberapa contoh yang bisa kamu perhatikan.

Bahasa Sumber Terjemahan Kurang Inklusif Alternatif Lebih Inklusif
Every employee must submit his report. Setiap karyawan laki-laki harus menyerahkan laporannya. Setiap karyawan harus menyerahkan laporan masing-masing.
Chairman of the board Ketua laki-laki dewan Ketua dewan
Disabled people need support. Orang cacat membutuhkan bantuan. Penyandang disabilitas membutuhkan dukungan.
The elderly require special attention. Orang tua membutuhkan perhatian khusus. Kelompok lanjut usia membutuhkan perhatian sesuai kebutuhannya.
All businessmen are invited. Semua pengusaha pria diundang. Seluruh pelaku usaha diundang.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa penerjemah dapat menyusun ulang kalimat tanpa menghilangkan informasi penting. Namun, penerjemah tetap harus mempertahankan maksud penulis dan tidak mengubah ketentuan dalam dokumen resmi.

Bagaimana Cara Menerapkan Bahasa Inklusif dalam Penerjemahan?

Penerjemah membutuhkan pemahaman bahasa sekaligus kemampuan membaca konteks agar tidak salah memilih istilah. Ada beberapa langkah yang dapat membantu mereka menghasilkan terjemahan yang lebih inklusif.

1. Memahami Target Pembaca

Langkah pertama adalah mengenali siapa yang akan membaca hasil terjemahan. Apakah dokumen menyasar masyarakat umum, karyawan perusahaan, lembaga pemerintahan, akademisi, atau komunitas tertentu?

Informasi tersebut membantu penerjemah menentukan tingkat formalitas, pilihan istilah, serta gaya bahasa yang sesuai.

Misalnya, penerjemah perlu memilih bahasa sederhana ketika menangani materi edukasi untuk masyarakat umum. Sebaliknya, dokumen perusahaan membutuhkan istilah yang konsisten dan tetap profesional.

2. Memeriksa Konteks Bahasa Sumber

Penerjemah sebaiknya tidak langsung mengganti kata yang dianggap kurang inklusif tanpa memahami maksud aslinya. Mereka perlu memeriksa apakah istilah tersebut merujuk pada identitas tertentu, jabatan, karakteristik seseorang, atau hanya berfungsi sebagai ungkapan umum.

Langkah ini penting karena satu kata dapat memiliki beberapa makna bergantung pada kalimat dan situasinya.

3. Menggunakan Istilah yang Sesuai dengan Bahasa Sasaran

Tidak semua istilah inklusif dalam bahasa sumber memiliki padanan langsung dalam bahasa sasaran. Karena itu, penerjemah perlu mempertimbangkan kebiasaan berbahasa, norma budaya, serta istilah yang masyarakat setempat terima.

Jika menerjemahkan dokumen ke bahasa Inggris, misalnya, penerjemah dapat mempertimbangkan penggunaan they sebagai kata ganti netral dalam konteks yang sesuai. Namun, mereka tetap perlu memeriksa struktur kalimat agar pembaca tidak mengalami ambiguitas.

4. Menghindari Asumsi dan Stereotip

Penerjemah tidak boleh menambahkan informasi yang tidak tercantum dalam teks sumber. Mereka sebaiknya tidak mengasumsikan bahwa pekerjaan tertentu hanya dilakukan laki-laki atau perempuan.

Selain itu, penerjemah perlu menghindari generalisasi tentang kemampuan seseorang berdasarkan usia, kondisi fisik, maupun latar belakang budayanya.

Prinsip ini membantu mengurangi bias bahasa dalam penerjemahan sekaligus menjaga objektivitas pesan.

5. Melakukan Pemeriksaan Ulang

Setelah menyelesaikan terjemahan, penerjemah perlu menyunting kembali hasil pekerjaannya. Pemeriksaan ini mencakup konsistensi istilah, ketepatan makna, dan kesesuaian gaya bahasa.

Jika dokumen menyasar komunitas tertentu, penerjemah juga dapat meminta masukan dari pihak yang memahami konteks komunitas tersebut.

Baca Juga:  Bahasa Baku dan Tidak Baku: Perbedaan dan Contohnya

Langkah ini penting karena bahasa inklusif tidak hanya berkaitan dengan pilihan kata secara terpisah. Penerjemah juga perlu melihat bagaimana keseluruhan kalimat membentuk pesan.

Tantangan Bahasa Inklusif dalam Penerjemahan Antarbahasa

Meskipun terdengar sederhana, penerapan bahasa inklusif memiliki tantangan tersendiri. Terutama ketika penerjemah bekerja dengan dua bahasa yang memiliki sistem tata bahasa dan latar belakang budaya berbeda.

Beberapa tantangan yang sering muncul antara lain:

  • Perbedaan struktur bahasa: Bahasa tertentu memiliki sistem gender gramatikal sehingga penerjemah tidak selalu mudah menemukan bentuk yang netral.
  • Tidak tersedia padanan langsung: Beberapa istilah inklusif dalam bahasa sumber belum memiliki terjemahan yang umum masyarakat gunakan dalam bahasa sasaran.
  • Perbedaan norma budaya: Istilah yang dianggap sopan di satu negara belum tentu mendapat penerimaan serupa di negara lain.
  • Konsistensi terminologi: Penerjemah perlu menjaga penggunaan istilah agar tidak berubah-ubah dalam satu dokumen.
  • Mempertahankan makna asli: Penerjemah tidak boleh mengubah informasi penting hanya demi membuat kalimat terdengar lebih inklusif, terutama dalam dokumen hukum atau administratif.

Contohnya, bahasa Prancis, Spanyol, dan Arab memiliki sistem gender gramatikal yang memengaruhi bentuk kata benda, kata sifat, maupun kata ganti. Karena itu, penerjemah perlu memahami karakteristik setiap bahasa sebelum menentukan strategi penerjemahan.

Penerjemahan bahasa Arab, Prancis, Spanyol, dan bahasa lainnya membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan struktur masing-masing bahasa. Jika membutuhkan jasa penerjemah bahasa asing, pastikan penerjemah memahami konteks penggunaan dokumen, bukan hanya menguasai kosakata.

Apakah Bahasa Inklusif Harus Selalu Digunakan dalam Semua Dokumen?

Penerapan bahasa inklusif perlu mengikuti tujuan dan jenis dokumen. Artinya, pendekatan ini tidak mengharuskan penerjemah mengganti semua istilah atau membuat seluruh informasi menjadi netral tanpa mempertimbangkan kebutuhan teks.

Dalam dokumen pemasaran, materi edukasi, dan komunikasi perusahaan, penggunaan bahasa inklusif dapat membantu organisasi menjangkau pembaca yang lebih beragam. Namun, dokumen hukum, akademis, dan administratif membutuhkan ketelitian lebih tinggi.

Misalnya, dokumen identitas seperti KTP, paspor, akta kelahiran, dan ijazah harus mempertahankan informasi sesuai dokumen asli. Penerjemah tidak boleh mengubah data identitas, status, atau keterangan resmi hanya untuk menyesuaikan gaya bahasa.

Begitu pula dengan dokumen perusahaan seperti perjanjian, MOU, laporan keuangan, dokumen pajak, dan company profile. Penerjemah harus mengikuti makna serta ketentuan yang berlaku.

Dengan demikian, bahasa inklusif dalam penerjemahan membutuhkan penerapan yang proporsional. Penerjemah perlu memahami kapan mereka dapat menyesuaikan istilah dan kapan harus mempertahankan informasi asli.

Pentingnya Memilih Jasa Penerjemah yang Memahami Bahasa Inklusif

Ketika menerjemahkan dokumen untuk kebutuhan pribadi maupun profesional, ketepatan bahasa dan pemahaman konteks harus berjalan beriringan. Penerjemah yang hanya mengandalkan terjemahan kata demi kata berisiko menghasilkan kalimat yang kurang sesuai dengan budaya atau karakteristik pembaca.

Karena itu, memilih jasa penerjemah yang memahami konteks bahasa, budaya, dan terminologi menjadi hal penting. Terlebih jika kamu membutuhkan terjemahan untuk keperluan lintas negara, kerja sama bisnis, pendidikan, maupun administrasi resmi.

Solusi Penerjemah menyediakan berbagai layanan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan penerjemahan, di antaranya:

  • Penerjemah bahasa asing: Bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Korea, Jerman, Prancis, Arab, Belanda, Rusia, Thailand, Taiwan, Vietnam, dan Spanyol.
  • Penerjemah dokumen perusahaan: Dokumen bisnis, perjanjian, MOU, dokumen hukum, laporan keuangan, manual book, company profile, dan dokumen teknik.
  • Penerjemah dokumen pribadi: KTP, KK, ijazah, akta kelahiran, paspor, buku nikah, dokumen beasiswa, dan dokumen akademis.
  • Jasa legalisasi dokumen: Legalisasi notaris, legalisasi dokumen, legalisasi foto, serta Apostille Kemenkumham.
  • Penerjemah lisan: Untuk kebutuhan komunikasi dalam pertemuan, kegiatan bisnis, maupun acara yang membutuhkan bantuan penerjemah secara langsung.

Melalui layanan tersebut, Solusi Penerjemah membantu memenuhi kebutuhan penerjemahan berbagai jenis dokumen dan komunikasi antarbahasa. Kamu juga dapat berkonsultasi terlebih dahulu mengenai bahasa tujuan, jenis dokumen, serta kebutuhan penerjemahan sebelum memulai prosesnya.

Kunjungi Solusi Penerjemah atau hubungi WhatsApp +628999045858 untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai layanan penerjemahan.

FAQ

Apa yang dimaksud dengan bahasa inklusif dalam penerjemahan?

Bahasa inklusif merupakan pendekatan penerjemahan yang menghormati keberagaman dan menghindari istilah yang mendiskriminasi kelompok tertentu.

Mengapa bahasa inklusif penting bagi penerjemah?

Karena pendekatan ini membantu menghindari bias, menghargai perbedaan budaya, meningkatkan aksesibilitas informasi, dan menjaga profesionalisme hasil terjemahan.

Apa contoh bahasa inklusif dalam penerjemahan?

Contohnya mengganti chairman menjadi chairperson atau chair ketika gender tidak relevan, serta menggunakan istilah penyandang disabilitas yang menghormati identitas seseorang.

Apakah bahasa inklusif harus digunakan dalam semua dokumen?

Penerapannya perlu menyesuaikan jenis dokumen, konteks, target pembaca, dan ketentuan yang berlaku.

Apa hubungan bahasa inklusif dengan penerjemahan yang sensitif budaya?

Keduanya membantu penerjemah memahami norma, kebiasaan, dan identitas masyarakat agar hasil terjemahan tetap sesuai dengan konteks budaya tujuan.

Rate this post