Bahasa Literal dan Figuratif: Apa Perbedaannya?

bahasa literal dan figuratif

Pernah mendengar seseorang berkata, “Aku sudah menunggumu selama seribu tahun”? Jika kamu memahami kalimat itu secara harfiah, artinya seseorang telah menunggu selama seribu tahun. Namun, dalam percakapan sehari-hari, orang biasanya menggunakan ungkapan tersebut untuk menggambarkan waktu tunggu yang terasa sangat lama. Contoh sederhana ini menunjukkan bahwa sebuah kalimat bisa menyampaikan makna yang berbeda dari arti kata-kata penyusunnya.

Perbedaan tersebut berkaitan dengan bahasa literal dan figuratif, dua cara yang digunakan seseorang untuk menyampaikan pesan. Bahasa literal mengungkapkan makna secara langsung sesuai arti kata, sedangkan bahasa figuratif menggunakan kiasan untuk memperkuat pesan, membangun suasana, atau menggambarkan perasaan. Memahami keduanya akan membantumu membaca karya sastra, menulis konten, berkomunikasi lintas budaya, dan menerjemahkan teks ke bahasa asing.

Apa Itu Bahasa Literal?

Untuk memahami perbedaan bahasa literal dan figuratif, kamu perlu mengenali makna literal terlebih dahulu. Bahasa literal menggunakan kata atau kalimat sesuai arti sebenarnya, tanpa maksud kiasan yang mengubah makna langsungnya.

Dalam komunikasi sehari-hari, bahasa literal membantu seseorang menyampaikan informasi secara jelas dan spesifik. Kamu dapat menemukan penggunaannya dalam petunjuk penggunaan, laporan, dokumen resmi, berita faktual, dan percakapan yang membutuhkan kejelasan.

Misalnya, kalimat “Adik membaca buku di kamar” menjelaskan kegiatan yang dilakukan adik. Kalimat tersebut tidak mengandung makna tersembunyi sehingga pembaca dapat memahami pesannya secara langsung.

Bahasa literal memiliki beberapa karakteristik utama, yaitu:

  • Bermakna langsung: Penulis menggunakan kata sesuai arti sebenarnya.
  • Mudah dipahami: Pembaca tidak perlu mencari makna kiasan di balik kalimat.
  • Bersifat spesifik: Penulis menyampaikan informasi secara jelas sesuai konteks.
  • Cocok untuk informasi faktual: Penggunaan bahasa literal membantu mengurangi risiko salah tafsir.

Meski demikian, kamu tetap perlu memperhatikan konteks. Sebuah kata dapat memiliki beberapa arti dalam kamus. Karena itu, susunan kalimat dan situasi komunikasi membantu pembaca menentukan makna yang tepat.

Apa Itu Bahasa Figuratif?

Berbeda dengan bahasa literal, bahasa figuratif menggunakan kata atau ungkapan untuk menyampaikan makna yang tidak selalu sama dengan arti harfiahnya. Gaya bahasa ini membuat pesan terasa lebih hidup, ekspresif, dan berkesan.

Kamu dapat menemukan bahasa figuratif dalam puisi, novel, lagu, iklan, pidato, hingga percakapan sehari-hari. Penulis memanfaatkan gaya bahasa ini untuk menyampaikan emosi, menggambarkan keadaan, atau menekankan pesan melalui perbandingan dan asosiasi tertentu.

Contohnya, kalimat “Dia adalah bintang kelas” tidak menyatakan bahwa orang tersebut benar-benar menjadi benda langit. Sebaliknya, penutur menggunakan kata “bintang” untuk menggambarkan siswa yang berprestasi atau menonjol di kelasnya.

Bahasa figuratif memiliki beberapa karakteristik berikut:

  • Mengandung makna kiasan: Ungkapan tidak selalu mengikuti arti harfiah.
  • Mengandalkan konteks: Pembaca perlu memahami situasi dan maksud pembicara.
  • Lebih ekspresif: Penulis menggunakan bahasa untuk membangun suasana atau memperkuat pesan.
  • Memanfaatkan gaya bahasa: Penulis dapat menggunakan metafora, simile, personifikasi, dan hiperbola.
Baca Juga:  Ambiguitas Bahasa: Pengertian dan Contohnya

Bahasa figuratif bukan berarti penutur sengaja memberikan informasi yang salah. Sebaliknya, gaya bahasa ini membantu seseorang menyampaikan gagasan secara kreatif melalui ungkapan yang kaya makna.

Perbedaan Bahasa Literal dan Figuratif

Setelah memahami pengertian keduanya, kamu bisa melihat bahwa perbedaan bahasa literal dan figuratif tidak hanya terletak pada arti kata. Tujuan komunikasi, cara penyampaian pesan, dan kebutuhan interpretasi juga membedakan kedua jenis bahasa tersebut.

Berikut tabel perbandingannya agar kamu lebih mudah mengenali karakteristik masing-masing.

Aspek Bahasa Literal Bahasa Figuratif
Makna Mengikuti arti sebenarnya Mengandung makna kiasan
Tujuan Menyampaikan informasi secara langsung Memperkuat pesan atau ekspresi
Interpretasi Umumnya lebih langsung Memerlukan pemahaman konteks
Gaya bahasa Cenderung lugas Cenderung ekspresif dan kreatif
Penggunaan Dokumen resmi, petunjuk, laporan Sastra, iklan, pidato, percakapan
Potensi salah tafsir Bergantung pada kejelasan konteks Meningkat jika pembaca tidak memahami ungkapan

Sebagai contoh, kalimat “Angin bertiup kencang” menjelaskan kondisi angin secara langsung sehingga termasuk bahasa literal. Sementara itu, kalimat “Angin membawa kabar buruk” dapat menggunakan bahasa figuratif jika penutur menjadikan angin sebagai simbol datangnya peristiwa yang tidak menyenangkan.

Perlu kamu ingat bahwa konteks menentukan makna sebuah kalimat. Satu ungkapan dapat memiliki makna literal dalam situasi tertentu dan makna figuratif dalam situasi lainnya. Karena itu, jangan hanya mengandalkan satu kata ketika menafsirkan pesan.

Contoh Bahasa Literal dan Figuratif dalam Kalimat

Mempelajari contoh bahasa literal dan figuratif akan membantumu mengenali perbedaan keduanya dengan lebih cepat. Perhatikan pasangan kalimat berikut untuk melihat bagaimana pilihan kata menghasilkan makna langsung atau kiasan.

Bahasa Literal Bahasa Figuratif Penjelasan
Dia sangat sedih. Hatinya hancur. Ungkapan hati yang hancur menggambarkan kesedihan mendalam.
Anak itu berlari dengan cepat. Anak itu berlari secepat kilat. Penutur menggunakan kilat untuk menggambarkan kecepatan.
Matahari terbit pada pagi hari. Sang surya tersenyum menyambut pagi. Penutur menggambarkan matahari seolah-olah memiliki ekspresi manusia.
Dia sangat sibuk. Dia tenggelam dalam pekerjaan. Kata tenggelam menggambarkan kesibukan yang menyita perhatian.
Harga barang itu sangat mahal. Harganya selangit. Selangit menggambarkan harga yang sangat tinggi.
Dia banyak membantu orang lain. Tangannya terbuka untuk semua orang. Ungkapan tersebut menggambarkan sikap suka menolong.
Hujan turun dengan deras. Langit menumpahkan air matanya. Penutur menggambarkan langit seolah-olah dapat menangis.

Contoh tersebut memperlihatkan bahwa bahasa literal menjelaskan keadaan secara langsung, sedangkan bahasa figuratif menggunakan gambaran tertentu untuk memperkuat kesan atau emosi.

Namun, kamu tetap perlu membaca konteksnya. Ungkapan “harganya selangit”, misalnya, biasanya menggambarkan harga yang sangat tinggi dalam percakapan sehari-hari. Pemahaman konteks membantu kamu membedakan maksud sebenarnya dari gambaran yang penutur gunakan.

Jenis-Jenis Bahasa Figuratif yang Perlu Kamu Ketahui

Bahasa figuratif memiliki beberapa bentuk yang sering muncul dalam komunikasi. Dengan mengenali jenis-jenisnya, kamu dapat memahami makna literal dan kiasan sekaligus mengidentifikasi maksud penulis atau pembicara.

1. Metafora

Metafora membandingkan dua hal secara langsung tanpa menggunakan kata pembanding seperti “seperti” atau “bagai”.

Contoh: “Waktu adalah uang.”

Kalimat tersebut tidak menyatakan bahwa waktu benar-benar berupa uang. Penutur menggunakan ungkapan itu untuk menekankan bahwa waktu memiliki nilai sehingga perlu dimanfaatkan dengan baik.

2. Simile

Simile membandingkan dua hal dengan kata pembanding, seperti “seperti”, “bagai”, atau “laksana”.

Contoh: “Wajahnya bersinar seperti bulan.”

Baca Juga:  Mengenal Seputar Jasa Penerjemah Bahasa

Ungkapan tersebut menggambarkan wajah seseorang melalui perbandingan dengan bulan. Penutur ingin menonjolkan kesan tertentu, bukan menyatakan bahwa wajah orang itu benar-benar memancarkan cahaya seperti benda langit.

3. Personifikasi

Personifikasi memberikan sifat atau tindakan manusia kepada benda, hewan, atau fenomena alam.

Contoh: “Daun-daun menari tertiup angin.”

Daun tidak benar-benar menari seperti manusia. Penutur menggunakan kata “menari” untuk menggambarkan gerakan daun yang terlihat indah ketika angin meniupnya.

4. Hiperbola

Hiperbola menggunakan pernyataan berlebihan untuk menekankan suatu keadaan.

Contoh: “Aku sudah menunggumu selama seribu tahun.”

Penutur biasanya menggunakan ungkapan tersebut untuk menunjukkan bahwa waktu tunggu terasa sangat lama, bukan untuk menyatakan durasi yang sebenarnya.

5. Ironi

Ironi menyampaikan maksud melalui pertentangan antara ungkapan dan keadaan yang sebenarnya. Dalam percakapan, seseorang dapat menggunakan ironi untuk menyampaikan kritik atau sindiran.

Contoh: Ketika seseorang datang terlambat, temannya berkata, “Wah, cepat sekali datangnya!”

Teman tersebut kemungkinan sedang menyindir keterlambatan, bukan memuji ketepatan waktu. Situasi percakapan membantu pendengar memahami maksud sebenarnya.

Setiap jenis bahasa figuratif memiliki fungsi berbeda. Karena itu, kamu perlu memperhatikan bentuk ungkapan, situasi komunikasi, dan pesan yang ingin disampaikan agar tidak salah menafsirkannya.

Kapan Sebaiknya Menggunakan Bahasa Literal dan Figuratif?

Pemilihan bahasa literal dan figuratif perlu mengikuti tujuan komunikasi. Bahasa yang efektif bukan selalu bahasa yang paling kreatif, melainkan bahasa yang mampu menyampaikan pesan secara tepat kepada pembaca.

Penggunaan Bahasa Literal

Bahasa literal lebih sesuai ketika kamu perlu menyampaikan informasi secara jelas, akurat, dan minim ambiguitas. Beberapa contohnya meliputi:

  • Dokumen hukum dan perjanjian.
  • Laporan keuangan dan laporan teknis.
  • Petunjuk penggunaan produk.
  • Informasi kesehatan dan keselamatan.
  • Surat resmi dan dokumen administratif.
  • Instruksi kerja atau prosedur operasional.

Dalam kontrak, misalnya, penggunaan kata yang lugas membantu pembaca memahami hak, kewajiban, dan ketentuan yang berlaku. Sebaliknya, ungkapan kiasan dapat membuka ruang interpretasi yang tidak diperlukan dalam dokumen formal.

Penggunaan Bahasa Figuratif

Bahasa figuratif lebih sesuai ketika kamu ingin membangun suasana, mengekspresikan emosi, atau menciptakan kesan tertentu. Kamu dapat menggunakannya dalam:

  • Puisi dan karya sastra.
  • Cerita pendek dan novel.
  • Slogan iklan.
  • Pidato persuasif.
  • Konten media sosial.
  • Percakapan yang menggunakan ungkapan kiasan.

Dalam iklan, misalnya, kalimat “Rasakan segarnya musim panas dalam setiap tegukan” membangun suasana melalui gambaran yang ekspresif. Pesan tersebut memberikan kesan berbeda dari pernyataan literal seperti “Minuman ini terasa segar”.

Meski demikian, kamu tetap dapat menggunakan bahasa figuratif dalam komunikasi profesional selama ungkapan tersebut tidak mengaburkan informasi utama. Pahami kebutuhan pembaca dan pastikan mereka dapat menangkap pesan dengan tepat.

Mengapa Perbedaan Bahasa Literal dan Figuratif Penting dalam Penerjemahan?

Pemahaman tentang bahasa literal dan figuratif sangat penting ketika kamu menerjemahkan teks ke bahasa lain. Penerjemah tidak cukup hanya mengganti kata dari bahasa sumber dengan padanannya dalam bahasa target. Penerjemah juga perlu mempertahankan makna, konteks, nada, dan tujuan komunikasi.

Misalnya, ungkapan bahasa Inggris “It’s raining cats and dogs” tidak tepat jika kamu menerjemahkannya secara harfiah menjadi “Hujan kucing dan anjing”. Ungkapan tersebut merupakan idiom yang berarti hujan turun sangat deras. Terjemahan yang sesuai perlu menyampaikan makna sebenarnya, misalnya “Hujan turun sangat deras”.

Hal serupa dapat terjadi ketika kamu menerjemahkan ungkapan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, atau bahasa lainnya. Sebuah peribahasa atau metafora mungkin tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa tujuan. Penerjemah perlu mempertimbangkan apakah mereka dapat mempertahankan ungkapan tersebut, perlu menyesuaikannya, atau sebaiknya menyampaikan maknanya secara langsung.

Baca Juga:  False Friends dalam Bahasa: Pengertian dan Contohnya

Dalam proses penerjemahan, beberapa hal berikut perlu mendapat perhatian:

  • Konteks kalimat: Makna sebuah kata dapat berubah sesuai penggunaannya.
  • Budaya bahasa: Ungkapan yang lazim dalam satu budaya belum tentu dikenal dalam budaya lain.
  • Tujuan teks: Penerjemahan karya sastra membutuhkan pendekatan berbeda dari dokumen teknis.
  • Konsistensi makna: Penerjemah perlu menjaga informasi penting agar tidak berubah.
  • Nada komunikasi: Penerjemah perlu mempertahankan humor, sindiran, kesedihan, atau penekanan sesuai konteks.

Untuk dokumen resmi, penerjemah perlu memilih kata secara akurat karena kesalahan dapat memengaruhi pemahaman isi dokumen. Sebaliknya, untuk karya sastra atau materi pemasaran, penerjemah juga perlu menjaga keindahan dan efek ungkapan tanpa mengorbankan maknanya.

Jika kamu membutuhkan bantuan menerjemahkan teks dengan konteks yang tepat, jasa penerjemah bahasa asing dapat menjadi pilihan sesuai kebutuhan bahasa dan jenis dokumen. Kamu juga dapat menggunakan jasa penerjemah dokumen untuk membantu menerjemahkan berbagai dokumen administratif dan profesional.

Tips Membedakan Bahasa Literal dan Figuratif

Setelah memahami pengertian, jenis, dan contoh penggunaannya, kamu dapat menerapkan beberapa langkah sederhana untuk mengenali bahasa literal dan figuratif dalam sebuah teks.

1. Periksa Arti Kata Secara Langsung

Cobalah memahami kalimat sesuai arti kata-katanya. Jika makna tersebut masuk akal dalam konteks pembahasan, kalimat itu mungkin bersifat literal. Namun, jika maknanya terasa tidak sesuai dengan situasi, periksa kemungkinan penggunaan bahasa figuratif.

2. Perhatikan Konteks Kalimat

Jangan menilai ungkapan hanya berdasarkan satu kata. Kalimat “Dia memiliki tangan yang panjang”, misalnya, dapat menjelaskan ukuran fisik secara literal. Dalam konteks tertentu, ungkapan serupa juga dapat menyiratkan tindakan mengambil sesuatu secara tidak jujur.

3. Identifikasi Gaya Bahasa

Perhatikan apakah kalimat menggunakan perbandingan, menggambarkan benda seolah-olah hidup, melebih-lebihkan keadaan, atau menyampaikan sindiran. Ciri-ciri tersebut dapat membantumu mengenali bahasa figuratif.

4. Pahami Tujuan Penulis

Tanyakan apakah penulis ingin menyampaikan fakta, membangun suasana, mengungkapkan emosi, atau menyindir sesuatu. Tujuan komunikasi membantu menjelaskan alasan penulis memilih ungkapan tertentu.

5. Gunakan Referensi yang Sesuai

Jika menemukan ungkapan yang sulit dipahami, periksa kamus, konteks paragraf, atau referensi bahasa tepercaya. Untuk teks asing, pertimbangkan pula penggunaan idiom dan kebiasaan penutur asli agar kamu tidak terjebak dalam terjemahan kata demi kata.

Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, kamu dapat memahami perbedaan bahasa literal dan figuratif secara lebih akurat, baik ketika membaca teks maupun menyusun terjemahan.

Butuh Jasa Penerjemah yang Memahami Konteks Bahasa?

Memahami bahasa literal dan figuratif bukan hanya soal mengetahui arti kata. Kamu juga perlu memahami konteks, budaya, dan tujuan komunikasi agar pesan tetap akurat ketika sampai kepada pembaca yang menggunakan bahasa berbeda.

Jika kamu membutuhkan layanan penerjemahan untuk dokumen pribadi, dokumen perusahaan, atau teks dalam berbagai bahasa asing, Solusi Penerjemah menyediakan pilihan layanan sesuai kebutuhanmu. Kamu dapat memilih jasa penerjemah bahasa Inggris, jasa penerjemah bahasa Jepang, atau layanan penerjemahan bahasa asing lainnya sesuai bahasa yang kamu butuhkan.

Untuk dokumen resmi, kamu juga dapat mencari informasi mengenai layanan penerjemah dokumen dan legalisasi sesuai persyaratan instansi tujuan. Sampaikan tujuan penggunaan dokumen sejak awal agar kamu dapat menentukan layanan yang sesuai.

FAQ tentang Bahasa Literal dan Figuratif

Berikut beberapa pertanyaan umum yang dapat membantumu memahami kedua jenis bahasa ini.

Apa perbedaan bahasa literal dan figuratif?

Bahasa literal menggunakan makna langsung atau arti sebenarnya, sedangkan bahasa figuratif menggunakan ungkapan kiasan untuk menyampaikan pesan.

Apa contoh bahasa literal?

“Air mendidih pada suhu 100°C pada tekanan 1 atmosfer” merupakan contoh pernyataan literal dalam kondisi yang disebutkan.

Apa contoh bahasa figuratif?

“Dia adalah bintang kelas” merupakan contoh metafora untuk menggambarkan siswa yang berprestasi.

Apakah bahasa figuratif sama dengan majas?

Bahasa figuratif berkaitan erat dengan majas. Majas merupakan salah satu cara menggunakan bahasa figuratif untuk menghasilkan makna atau efek tertentu.

Mengapa bahasa figuratif perlu diperhatikan dalam penerjemahan?

Karena ungkapan kiasan tidak selalu memiliki padanan langsung dalam bahasa lain. Penerjemah perlu menjaga makna dan konteks agar pesan tidak disalahartikan.

Rate this post